Pengaruh Social Network

21 11 2010

 

“ Social Network”

Bisa dibilang 5tahun terakhir ini adalah tahun berkembangnya social network. Dimulai dari Friendster yang menghubungkan jutaan umat di seluruh dunia, hingga fenomena yang saat ini menggemparkan dunia yaitu Facebook , Twitter, bahkan Koprol  yang merupakan hasil karya orang Indonesia dan diakuisisi oleh Yahoo. Jutaan informasi setiap detiknya melalui lalu lintas data di berbagai social network yang ada saat ini.

Apakah social network seperti facebook, twitter ,dan koprol ada hubungannya dengan sistem informasi ?

Tentu saja social network tersebut sangat erat hubunggannya dengan sistem informasi. Saya yakin anda semua sudah pernah menggunakan salah satu social network tersebut. Anda menuliskan apa yang ingin anda tulis. Dan itu dibaca oleh teman anda sehingga disitu terbentuklah informasi. Informasi tersebut dikomentari oleh teman anda juga sehingga teman anda menyampaikan informasi kepada anda juga.

Social networking sepertinya telah menjadi fenomena global. Facebook, Friendster, MySpace, Youtube dan lainya menjadi topik hangat di berbagai media di seluruh dunia selama dua tahun terakhir ini. Bahkan majalah Times memilih YOU (pengguna social media) sebagai Person of the Year tahun 2006. Namun, benarkah social media sudah mendunia dan menjadi aktivitas global? Untuk mengetahui hal tersebut lembaga riset Synovate melakukan riset di 17 negara, termasuk Indonesia, dengan 13 ribu responden usia 18-65 tahun. Hasilnya mengejutkan.

Pertama, masih banyak yang tidak tahu apa itu social media.

Synovate melakukan riset dengan pertanyaan pertama yang yang sederhana namun amat mendasar: “Do you know what online social networking is?”

Hasilnya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang.  Ternyata hanya 42 persen yang tahu social networking. Sebagian besar lainnya, yang 58 persen masih gelap soal mahluk bernama social media.

Synnovate mengakui, hasil itu karena rentang usia responden sangat luas. Akan beda hasilnya jika respondennya hanya kawula muda.

Meski demikian, ada tiga negara yang sebagian besar warganya paham social networking. Yakni Belanda (89 persen), Jepang(71 persen) dan Amerika Serikat ( 70 persen).

Kedua, meski banyak lahir di Amerika Serikat, online social networking tidaklah US-centric.

Synovate kemudian melakukan studi lebih dalam untuk mengetahui siapa yang menjadi member online social media. Secara keseluruhan, 26 persen responden menyatakan sebagai pengguna social media. Namun prosentase terbesar bukan dari AS, negara yang melahirkan banyak situs social networking. Yang tertinggi, lagi-lagi, dari Belanda (49 persen). Kemudian disusul oleh Uni Emirat Arab (46 persen), Kanada (44 persen), baru kemudian AS (40 persen). Namun dari segi jumlah, tetap saja AS terbesar karena 40% dari jumlah penduduk yang amat besar.

Ketiga, satu orang bisa punya banyak situs online social networking.

Pertanyaan berikutnya yang dilempar Synovate adalah situs social networking apa yang dipunyai responden. Jawabannya beragam. Ada yang menyebut satu atau dua. Ada pula yang memiliki banyak. Nah, Uni Emirat Arab, India, Indonesia dan Bulgaria adalah negara-negara yang warganya membuka banyak account di situs social media.

Meski saya bukan responden, saya termasuk yang membuka account di lebih dari 10 social networking. Sebagian besar yang saya kenal di Internet pun memiliki lebih dari tiga situs social networking.

 

Didalam bersosial network, maka terjadi status sosial yang bagaimana ?

Mari kita pelajari dulu tentang status sosiall,

Korelasi Status Sosial

Latar Belakang
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu memberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat . Pembangunan yang dilakukan di masyarakat akan menimbulkan dampak sosial dan budaya bagi masyarakat. Pendapat ini pada berlandaskan pada asumsi pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial dan budaya). Selain itu masyarakat tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur pokok pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan birokrasi.

Status Sosial

Para pakar ilmu sosial sedari dulu telah memberikan perhatian besar terhadap berbagai kajian yang bertalian dengan status sosial.
Status sosial adalah kedudukan, peranan, dan tanggung jawab seseorang dalam masyarakatnya. Status itu dikategorikan dalam dua bagian status karena seseorang mewarisi dari keturunannya (ascribed status), dan status sosial yang digenggam sebab prestasi yang diperoleh (achieved status). Kelompok ascribed status bertali temali dengan keturunan, kelahiran dan warisan yang mereka peroleh dari orang tua atau kakek buyut, dan tidak dibutuhkan jerih lelah untuk masuk dalam kategori ini. Dalam masyarakat sederhana, karakteristik ascribed status dipandang sebagai suksesi yang tidak pernah diperdebatkan.

Sebaliknya, orang yang dikelompokkan dalam kategori achieved status adalah orang yang harus berjerih lelah, untuk menghasilkan sesuatu yang diakui oleh masyarakat luas. Tidak dikenal paham suksesi, yang berlaku adalah usaha dan prestasi.

Fenomena dan realitas sosial serupa mencolok dalam masyarakat maju, di mana kontestasi merupakan syarat menuju puncak prestasi. Kedua model status sosial itu terpatri dalam benak masyarakat, diakui, diupayakan – kendati pun dicemooh – tetapi telah berlangsung berabad-abad dalam peradaban manusia. Untuk memahami eksistensi dua status sosial itu, kita mudah mencari, apakah kontribusi mereka bagi masyarakat dan lingkungan sosial pada zamannya.

Para bangsawan jelas dilacak dari keturunannya, peranan sosial yang mereka perankan; dan penghormatan yang mereka terima. Begitu juga dengan kelompok achieved status, manusia modern menyanjung dan menghormati prestasi,kontribusi pemikiran bagi kemanusiaan mereka, yang melintasi batas waktu, negara, etnis dan agama.

Sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menaikkan harga BBM pada tanggal 1 Oktober 2005,kehidupan kebanyakan warga negara Indonesia terkoyak gejolak ekonomi. Pengangguran bertambah, lapangan kerja minim, kualitas hidup menurun, harapan hidup masa depan buram dan hidup hari ini terhimpit krisis. Untuk ‘menolong’ anggota masyarakat yang digolongkan miskin, keluarlah kebijakan dana “Kompensasi BBM” sebesar Rp 17 triliun.

Akibat ikutannya, jumlah orang miskin meroket menjadi sekitar 15,5 juta hingga 15,7 juta jiwa. Fenomena yang menggelikan untuk dicermati adalah terjadinya perubahan perilaku masyarakat untuk terbuka mengaku dan diperlakukan sebagai miskin, agar memperoleh dana kompensasi BBM. Realitas sosial menyimpang ini dapat diartikulasikan sebagai berikut.

Pertama, untuk bertahan hidup, nilai sebagai manusia normal harus diperjualbelikan sekadar untuk Rp 100.000.
Kedua, niat baik pemerintah untuk membantu orang miskin, analog dengan membangun mentalitas miskin dan bergantung pada instansi lain
Ketiga, perubahan akal sehat sekonyong-konyong menjadi miskin, adalah bukti bahwa masyarakat kita sementara sakit menahun. Penyakit sosial ini berbahaya bagi sebuah bangsa, sebab warga masyarakat tertentu rela menyandang predikat ‘pengemis’.
Keempat, di Indonesia, kemiskinan menjadi sebuah fenomena baru, dan
tanpa disadari dikonstruksi oleh pemerintah dan masyarakat menjadi sebuah status sosial baru. Atau, kemiskinan akibat kebijakan pembangunan nasional selama ini, ikut membentuk mentalitas bangsa, dari sebuah bangsa yang kaya,menjadi bangsa yang lemah, cepat menyerah dan tidak akan malu mengaku diri miskin.

Gunnar Myrdal, pemenang hadiah Nobel ekonomi dari Swedia berkata “yang menjadi kewajiban kita untuk tidak hanya membebaskan cara berpikir kita sendiri, tetapi juga cara berpikir masyarakat umum dari lingkungan tradisionalisme”. Kemiskinan terakut bukan terletak pada aspek materi, tetapi terpatri pada pikiran manusia.

Hakikat Status Sosial Ekonomi

Di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat pembeda posisi atau kedudukan seseorang maupun kelompok di dalam struktur sosial tertentu. Perbedaan kedudukan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah lapisan sosial. Lapisan sosial merupakan sesuatu yang selalu ada dan menjadi cirri yang umum di dalam kehidupan manusia.

Seorang sosiologi yang bernama Sorokin menyatakan bahwa lapisan sosial adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirakris)
Sedangkan menurut sosiologi, lapisan sosial itu mempunyai dua pengertian, yaitu:
1) Lapisan sosial adalah tataran/tingkatan status dan peranan yang relatif bersifat tetap di dalam suatu sistem sosial, tataran di sini menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan hak, kehormatan, pengaruh dan kekuasaan.
2) Lapisan sosial adalah kelas sosial atau sistem kasta. Sistem kasta ini dapat dijumpai di
masyarakat Hindu Bali, yaitu adanya kelas-kelas sosial yang bertingkat-tingkat dari atas ke
bawah, yaitu:
a. Kasta Brahmana,
b. Kasta Kesatria,
c. Kasta Wesia, dan
d. Kasta Sudra (Dimyati Mahmud,1989:32)

 

Arti Definisi/Pengertian Status Sosial & Kelas Sosial – Stratifikasi/Diferensiasi Dalam Masyarakat

Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di rt atau rw kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.

Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain.

Beragamnya orang yang ada di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan).

Arti Definisi / Pengertian Status Sosial :

Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.

Arti Definisi / Pengertian Kelas Sosial :

Kelas sosial adalah stratifikasi sosial menurut ekonomi (menurut Barger). Ekonomi dalam hal ini cukup luas yaitu meliputi juga sisi pendidikan dan pekerjaan karena pendidikan dan pekerjaan seseorang pada zaman sekarang sangat mempengaruhi kekayaan / perekonomian individu.

Arti Definisi / Pengertian Stratifikasi Sosial :

Stratifikasi sosial adalah pengkelasan / penggolongan / pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana direktur berada pada strata / tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada struktur mandor atau supervisor di perusahaan tersebut.

Arti Definisi / Pengertian Diferensiasi Sosial :

Diferensiasi sosial adalah pengkelasan / penggolongan / pembagian masyarakat secara horisontal atau sejajar. Contohnya seperti pembedaan agama di mana orang yang beragama islam tingkatannya sama dengan pemeluk agama lain seperti agama konghucu, budha, hindu, katolik dan kristen protestan.

Jenis-Jenis/Macam-Macam Status Sosial & Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat – Sosiologi

Definisi / pengertian dari status sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya. Berikut di bawah ini adalah jenis-jenis atau macam-macam status sosial serta jenis / macam stratifikasi yang ada dalam masyarakat luas :

A. Macam-Macam / Jenis-Jenis Status Sosial

1. Ascribed Status
Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.

2. Achieved Status
Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll.

3. Assigned Status
Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya.

B. Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial

1. Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat / bangsawan darah biru.

2. Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.

Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak keterampilan sehingga dia mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi dengan bayaran / penghasilan yang tinggi.

Artikel menarik yang akan kita bahas,

Blackberry: Kebutuhan atau Status Sosial?

Saya tahu bahwa tulisan saya kali ini akan menuai pro – kontra karena saya tahu bahwa sebagian teman facebook saya adalah pengguna BB. Oke saya informasikan bahwa tulisan ini hanya contoh dari fenomena sosial, so baca sampai selesai ya sebelum komentar atau berpikir sesuatu terhadap tulisan ini🙂 (malu dong kalau salah tanggapan)

Pada awalnya, pada tahun 1996 perusahaan Kanada yang bernama Research in Motion atau mungkin banyak dari kita yang hanya mengetahuinya dengan nama RIM menciptakan sebuah gadget canggih yang bernama Blackberry. Blackberry yang pada hakikatnya bisa dikategorikan sebagai Handphone (telepon genggam), mempunyai 2 fasilitas andalan yang membedakannya dengan handphone biasa, yaitu fasilitas push email dan Blackberry PIN.

Fitur push email pada dasarnya adalah sebuah layanan yang memudahkan seseorang untuk mengakses email secara dengan kemampuan “always on”. Artinya anda tidak perlu repot-repot mengaktifkan fitur ini terlebih dahulu untuk memeriksa email account anda karena gadget anda selalu online untuk memberitahu apakah ada email baru atau tidak. Kelebihan Blackberry pada fitur push email, seperti yang ditulis dalam The Wall Street Journal edisi 13 Agustus 2010, adalah kemudahannya untuk digunakan, yaitu akses instant pada saat ada email masuk. Sehingga sang penerima email tidak perlu menunggu beberapa saat sebelum notifikasi email muncul dalam Blackberry-nya.

Sedangkan fitur Blackberry PIN adalah fitur tambahan yang cenderung lebih untuk “menghemat” pulsa anda. Dengan Blackberry PIN walaupun jumlah pulsa anda 0 rupiah, anda tetap bisa ber-BB ria dengan sesama pengguna Blackberry dimanapun anda berada. Ya sebenarnya fitur ini sih tidak begitu signifikan seperti fitur push email Blackberry karena sekarang banyak operator (bahkan hampir semua) yang menyediakan paket-paket SMS baik itu dengan pendaftaran ataupun tanpa pendaftaran yang murahnya luar biasa.

Saya yakin sebagian besar pembaca tahu bahwa tujuan awal di ciptakannya Blackberry adalah fitur Push emailnya. Bisa dibilang juga bahwa fitur ini lah yang membedakan antara Blackberry dengan HP lain seperti Nokia, Motorola, Sony Ericsson dan lain sebagainya. Dan yang jadi pertanyaan yang cukup menggelitik saya adalah “Apakah sebegitunya banyaknya orang Indonesia yang memanfaatkan email sebagai sarana komunikasi utama mereka?”.

Berdasarkan data dari Asosiasi Telepon Seluler Indonesia, jumlah pengguna BB di Indonesia mencapai 1 juta pelanggan (Maret 2010). Dan jumlah pengguna internet di Indonesia (termasuk didalamnya pengguna email, facebook dan lain sebagainya) adalah 45 juta pengguna (Kementrian Komunikasi). Jadi dapat kita ketahui bahwa setiap 45 pengguna internet (tidak perduli anda hanya menyewa di warnet atau sekedar OL di HP) maka 1 orangnya adalah pengguna Blackberry.

Sekarang kita lihat, berapa banyak sih orang yang “melek” internet di Indonesia yang menjadikan email sebagai mata pencahariannya? Seberapa banyak orang di Indonesia yang mempunyai urgensi sedemikian tinggi atas cepatnya akses terhadap emailnya? Si penulis sendiri yang sebagian besar pendapatannya & kepentingan organisasinya saja bergantung pada email tidak memerlukan Blackberry.

Secara mengejutkan, tahun 2010 ini Indonesia diprediksikan akan menjadi Negara dengan pengguna Blackberry terbesar di dunia. Sangat mengejutkan menurut saya karena dengan cepatnya kita sanggup mengalahkan A.S dan Negara-negara Eropa lainnya. Amerika Serikat contohnya, dengan jumlah pengguna internet tahun 2010 yang mencapai angka 230 juta pengguna (yang bahkan lebih banyak dari penduduk Indonesia), hanya sekitar 1,3-1,5 juta orang saja yang menggunakan Blackberry (detik.com).

Bisa kita lihat bersama bahwa ada ketidakseimbangan yang begitu besar antara pengguna BB di Indonesia & A.S: Indonesia dengan pengguna Internet “hanya” 45 juta orang, mempunyai pengguna BB sebanyak satu juta orang. Amerika Serikat dengan pengguna internet mencapai 230 juta orang (atau sekitar lima kali lipat pengguna internet Indonesia) justru hanya mempunyai pemakai BB sebesar 1,3-1,5 juta pengguna.

Hal diatas menunjukkan bahwa ada kecenderungan “penggunaan tanpa pemanfaatan” (using without utilization) oleh banyak pengguna BB di Indonesia. Namun tetap menjadi tanda tanya kenapa Indonesia bisa menjadi pengguna BB terbesar di dunia?

Dengan asumsi dasar bahwa motivasi hakiki seseorang menggunakan BB adalah fitur Push emailnya (sesuai dengan tujuan dasar RIM menciptakan BB), maka adalah suatu hal yang janggal bilamana pada kenyatannya terdapat banyak orang yang tidak memanfaatkan fitur tersebut, maka patut dipertanyakan motivasinya menggunakan BB. Di dalam pandangan saya hanya ada satu motivasi yang menjadi factor utama pengguna Blackberry (selain karena kebutuhan push email tentunya) yaitu menaikkan status sosial.

Michael Marmot (2004) dalam bukunya The Status Syndrome: How Social Standing Affects Our Health and Longevity disebutkan bahwa sudah menjadi kodrat seseorang (human nature) untuk senantiasa memperoleh status sosial yang lebih tinggi daripada umumnya. Dan seringkali dalam memperoleh status sosial yang lebih baik seseorang rela mengorbankan apapun seperti kesehatan, orang yang dicintai, perasaan, kemampuan ekonomi dan lain sebagainya. Tidak ada yang aneh tentang hal ini, maka dari itulah mengapa meningkatkan status sosial tidak dikategorikan dalam penyimpangan sosial (social distortion).

Begitupun halnya dengan para pengguna BB yang sekedar mengikuti trend atau high life style. Mereka selaku manusia normal yang menginginkan status sosial yang tinggi bisa mencapainya melalui pencapaian atas symbol status. Cherrington, David J. (1994) dalam bukunya Organizational Behavior menjelaskan bahwa kepemilikan barang/akses terhadap sesuatu hal tertentu oleh seseorang dapat menaikkan status sosial orang yang bersangkutan. Biasanya barang-barang yang dianggap sebagai symbol status adalah barang-barang mewah, mencakup seperti kendaraan pribadi, jam tangan, personal gadget (termasuk BB) dan lain sebagainya.

Yang menjadi masalah dan bisa disebut sebagai penyimpangan sosial adalah saat kodrat manusia atas pencapaian status sosial diimplementasikan secara berlebih. Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi. Dan orang-orang yang melakukan pengejaran atas status sosial secara berlebihan biasa disebut Social Status Climber. Orang-orang ini, seperti yang telah tersebutkan sedikit diatas, adalah orang yang rela menggadaikan atau mengorbankan apapun untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Hal ini dapat membawa dampak negatif terhadap dirinya sendiri dan orang lain disekitarnya, bahkan dalam level lebih tinggi bila dilakukan secara kolektif oleh sebagian besar anggota komunitas tertentu (contohnya adalah dalam tingkat Negara) maka hal tersebut akan membawa distorsi struktur pada organisasi/komunitas tersebut.

Contohnya: Ada seorang remaja SMA berusia 17 tahun. Dia tinggal bersama kedua orang tua yang mempunyai kemampuan ekonomi menengah kebawah. Si anak ini melihat di sekolah nya banyak teman-temannya yang sudah menjadi pengguna BB. Si anak ini kemudian iri dan dia juga ingin mempunyai BB seperti milik teman-temannya. Dia tahu bahwa kedua orang tuanya akan sangat merasa kesulitan untuk membelikannya sebuah Blackberry baru, namun ternyata si anak ini tidak mau tahu dan memaksa kedua orang tuanya memberikan sebuah BB. Akhirnya dibelikanlah si anak ini BB baru yang harganya sekitar 4,5 juta rupiah dan bahagialah si anak karena dia bisa ikut menjadi anak “gaul” disekolahnya. Lalu apa fungsi BB bagi si anak ini? Tidak ada sebenarnya karena pemanfaatan BB oleh si anak remaja ini sama saja bila dia menggunakan Nokia 3315 atau mungkin yang lebih canggih sedikit Nokia N70. Nilai yang dia dapatkan hanyalah posisi status sosialnya yang naik secara semu. Saya katakan semu karena dibalik kepemilikannya atas BB, keluarganya kemungkinan mengalami masalah financial untuk makan atau bahkan untuk membayar uang sekolah si anak tersebut yang tingkat urgensitas jauh diatas hak kepemilikan atas BB.

Kesimpulan saya mengenai sosial network adalah hubungan sosial dimana manusia berhubangan sosial tidak hanya di lingkungan nyata. Tapi manusia sekarang ini lebih suka berhubungan di dunia maya yaitu melalui social network yanga dihubungkan oleh jaringan internet. Memang menimbulkan efek negatif dan efek postif. Tapi hal itulah yang terjadi saat ini dan masa yang akan datang.

source :

http://id.shvoong.com/humanities/1969964-korelasi-status-sosial/#

http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-status-sosial-kelas-sosial-stratifikasi-diferensiasi-dalam-masyarakat

 

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: